Walikota Bengkulu Tinjau Banjir Sawah Lebar, Fokus Perbaiki Drainase dan Cari Solusi
Kantor-Berita.Com, Kota Bengkulu|| Banjir di Sawah Lebar yang melanda Jalan Merawan 7 RT 27 RW 6, memicu keluhan warga terkait kondisi drainase dan pembangunan sekolah yang dinilai memperparah genangan. Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi turun langsung meninjau lokasi pada awal pekan ini, mendengarkan langsung keluhan warga, sekaligus membagikan bantuan bagi korban terdampak.
Saat dialog di lokasi banjir, beberapa warga menyampaikan bahwa genangan di wilayah tersebut semakin parah sejak berdirinya SDIT Iqra dan SMAIT di sekitar kawasan. Menurut mereka, pembangunan sekolah yang memakan lahan resapan air membuat aliran air terhambat.
BACA JUGA: Pemkab Bengkulu Tengah Dukung Optimalisasi Tanah Negara Lewat FGD Badan Bank Tanah
Sarkowi, warga RT 27 yang sudah puluhan tahun tinggal di sana, mengatakan sebelum ada pembangunan sekolah, banjir tidak separah sekarang.
“Sejak dua sekolah ini berdiri, banjir di sini semakin parah, Pak, Air lebih lama surutnya,” ujar Sarkowi.
Keluhan lain datang dari Susilawati, warga setempat yang menyoroti ukuran siring di RT 25 dan RT 26. Ia menilai saluran tersebut terlalu kecil untuk menampung debit air saat hujan lebat.
BACA JUGA: Wali Kota Ajak Warga Belanja di Dalam Pasar PTM, Dorong Pedagang Tinggalkan Trotoar
“Kalau siring di ujung jembatan itu diperlebar, air pasti lebih lancar mengalir, Sekarang siring di sini lebar, tapi begitu ke ujung malah menyempit,” jelas Susilawati.
Menanggapi laporan warga, Walikota Dedy Wahyudi meminta masyarakat untuk tidak saling menyalahkan, melainkan fokus mencari solusi. Ia mengakui bahwa banjir di Sawah Lebar dipicu oleh tiga faktor utama: curah hujan tinggi, letak geografis wilayah yang berupa cekungan atau dataran rendah, dan kondisi drainase yang belum optimal.
BACA JUGA: Pemkab Bengkulu Utara Hadirkan BTS Internet di Enggano, Desa Banjarsari Siap Terkoneksi Digital
“Hujan itu dari Allah, kita tidak bisa menghindari, Sekolah juga sudah terlanjur berdiri dan tidak mungkin dirobohkan, Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mencari solusi agar dampaknya berkurang,” tegas Dedy.
Ia menambahkan, pemerintah kota siap melakukan perbaikan drainase, baik dengan meluruskan saluran yang tersumbat, menggali pendangkalan, maupun membangun pola aliran baru jika diperlukan.
“Kalau faktor drainase itu memang tugas pemerintah, Tapi kalau hanya karena curah hujan tinggi, itu jangan kita salahkan, Yang penting kita berdoa agar hujan yang turun membawa berkah, bukan banjir,” ujar Dedy.
BACA JUGA: Walikota Apresiasi Program GERLAP dan Aplikasi PADEK untuk Tingkatkan Pembayaran PBB
Dalam kunjungannya, Dedy juga menyerahkan bantuan logistik kepada warga yang rumahnya terendam. Di RT 27 saja, terdapat sekitar 15 rumah yang kebanjiran, dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa.
Ita, salah satu warga korban banjir, mengaku air mulai naik sejak dini hari dan baru mulai surut menjelang siang.
“Pagi tadi air naik sampai di atas lutut, Kami terpaksa memindahkan barang-barang ke tempat lebih tinggi,” kata Ita.
Selain di Kelurahan Sawah Lebar, banjir juga dilaporkan terjadi di RT 15 Kelurahan Penurunan serta RT 8 dan RT 10 Kelurahan Kebun Beler. Kondisi ini menunjukkan perlunya penanganan drainase lintas wilayah agar aliran air tidak terhambat.
Usai meninjau lokasi, Walikota menginstruksikan Dinas PUPR, Dinas Sosial, dan BPBD untuk segera melakukan langkah-langkah berikut:
- Pembersihan dan normalisasi drainase di titik-titik rawan sumbatan.
- Pengukuran ulang dan pelebaran siring di RT 25 dan RT 26 agar aliran air tidak terhambat.
- Pendataan kerugian warga akibat banjir sebagai bahan evaluasi dan bantuan lanjutan.
- Studi teknis untuk mencari solusi jangka panjang, termasuk kemungkinan pembangunan kolam retensi atau sumur resapan.
Dedy menegaskan bahwa penanganan banjir membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan warga. Ia juga mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan saluran air. (**)
Editor: (KB1) Share
Pewarta: QQ











