Mensos Saifullah Yusuf Kunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi Pontianak

Sekolah Rakyat Terintegrasi Pontianak
Foto: Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf melakukan kunjungan kerja ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 53 Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Rabu (22/10/25), (Ft/Dok).

Mensos Saifullah Yusuf Kunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi Pontianak

Kantor-Berita.Com|| Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf melakukan kunjungan kerja ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 53 Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Rabu (22/10/2025). Kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali arti penting pendidikan karakter, toleransi, dan kebersamaan di lingkungan sekolah, terutama di tengah keberagaman sosial dan budaya masyarakat Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Mensos menyaksikan langsung bagaimana nilai-nilai toleransi tumbuh secara alami di kalangan siswa. Ia terlihat terharu ketika menyaksikan para siswa dari berbagai agama melakukan doa makan siang secara terpisah sesuai keyakinannya masing-masing, namun tetap duduk berdampingan dalam suasana penuh keakraban dan kebersamaan.

||BACA JUGA: Perbedaan Putusan Kasus Korupsi Bank Kalbar, Kejati Kalbar Tempuh Kasasi

“Saya bersyukur menyaksikan bagaimana anak-anak ini makan siang bersama. Mereka berdoa sesuai agamanya masing-masing, namun tetap duduk bersebelahan tanpa sekat, penuh rasa hormat dan toleransi. Di situ terlihat nilai-nilai kebersamaan yang luar biasa,” ujar Saifullah Yusuf dalam sambutannya.

Menurutnya, pemandangan seperti itu adalah cerminan nyata dari pendidikan karakter bangsa yang diterapkan dengan konsisten oleh pihak sekolah.

||BACA JUGA: Korupsi Gas PGN, KPK Jerat Komisaris Utama PT IAE

“Doanya boleh berbeda, tetapi duduknya sejajar. Mereka rukun, saling peduli, dan tidak merasa berbeda. Inilah praktik nyata pendidikan karakter yang harus terus kita kembangkan di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Dalam kunjungan tersebut, Mensos disambut hangat oleh para siswa dengan penampilan tarian bela diri tradisional dan yel-yel semangat khas SRT 53 Pontianak. Suasana keceriaan tampak mewarnai pertemuan ketika Mensos menyalami, memeluk, dan berdialog dengan sejumlah siswa yang tinggal di asrama sekolah tersebut.

Setelah itu, ia meninjau sejumlah fasilitas sekolah, termasuk ruang makan, asrama, dan kamar tidur siswa. SRT 53 Pontianak merupakan salah satu Sekolah Rakyat Terintegrasi yang menyelenggarakan pendidikan dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.

||BACA JUGA: Mendes Yandri dan Mensos Gus Ipul Perkuat Sinergi untuk Pengentasan Kemiskinan Desa

“Sekolah ini baru beroperasi sejak September, jadi usianya bahkan belum genap satu bulan. Karena bersifat terintegrasi dan berasrama, tentu butuh masa adaptasi bagi para siswa,” jelasnya.

Mensos menambahkan, sistem pendidikan di SRT mengusung konsep 24 jam pengasuhan dan pembelajaran, di mana guru tidak hanya mengajar, tetapi juga berperan sebagai pembimbing dan orang tua kedua bagi para siswa.

“Biasanya, pada bulan-bulan awal memang akan muncul berbagai dinamika. Tapi pada bulan kedua dan ketiga, insyaallah semuanya akan lebih stabil. Anak-anak mulai beradaptasi, belajar hidup bersama, dan menumbuhkan kemandirian,” kata Mensos.

||BACA JUGA: Mensos Gus Ipul Fokus Entaskan Kemiskinan Ekstrem di Bengkulu

Dalam kesempatan tersebut, Saifullah Yusuf menekankan bahwa mendidik anak-anak di Sekolah Rakyat bukan hanya soal kemampuan mengajar, tetapi juga soal keteladanan, kesabaran, dan empati.

“Guru dan kepala sekolah di sini bukan hanya pendidik, tapi juga pembimbing yang harus sabar, memiliki empati, dan mau terlibat langsung dalam membentuk karakter anak-anak ini,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa ada tiga hal yang tidak boleh terjadi di lingkungan pendidikan, terutama di Sekolah Rakyat, yaitu perundungan (bullying), pelecehan seksual, dan tindakan intoleransi.

||BACA JUGA: Dana Transfer Kalbar Dipangkas Rp522 M, Pemprov Siapkan Langkah Antisipasi

“Tiga hal ini adalah dosa besar dalam dunia pendidikan. Tidak boleh ada perundungan, tidak boleh ada pelecehan, dan tidak boleh ada tindakan intoleransi dalam bentuk apa pun,” tegasnya dengan nada serius.

Mensos menilai, pembentukan karakter sejak dini merupakan pondasi penting dalam membangun generasi muda yang tangguh dan berintegritas. Ia mencontohkan bagaimana praktik sederhana seperti berdoa bersama, saling menghormati perbedaan, hingga menjaga kebersihan lingkungan sekolah dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan disiplin.

“Sekolah bukan hanya tempat menuntut ilmu, tapi tempat menumbuhkan karakter. Kalau sejak kecil anak-anak sudah diajarkan empati, toleransi, dan gotong royong, maka mereka akan tumbuh menjadi manusia yang berakhlak dan berguna bagi bangsa,” ujarnya. (Yan’S).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *