Seminar Nasional: Pemantapan Bengkulu sebagai Bumi Merah Putih di Era Kepemimpinan Baru
KANTOR-BERITA.COM, KOTA BENGKULU|| Walikota Bengkulu terpilih untuk periode 2025-2030, Dedy Wahyudi, bersama Penjabat (Pj) Walikota Bengkulu, Arif Gunadi, menghadiri seminar nasional bertema “Pemantapan Provinsi Bengkulu sebagai Bumi Merah Putih”, Acara ini berlangsung pada Rabu, (15 /01/25), di Gedung Auditorium Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno (UIN FAS) Bengkulu. Seminar tersebut menjadi wadah diskusi strategis yang melibatkan berbagai pihak terkait pembangunan Provinsi Bengkulu.
Seminar ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Profesor Ilmu Tafsir UIN FAS Bengkulu, Prof. Dr. H. Rohimin M.Ag., dan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Advokat Indonesia (DPD IKADIN) Provinsi Bengkulu, Muspani, M.H. Selain itu, Gubernur Bengkulu terpilih, Helmi Hasan, Ketua DPR Kota Bengkulu, Herimanto, Rektor UIN FAS Zulkarnain, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turut hadir.
Acara ini menjadi momen penting untuk membahas langkah strategis dalam memperkuat identitas Provinsi Bengkulu sebagai Bumi Merah Putih. Setelah pesta demokrasi selesai, pembahasan tentang masa depan Bengkulu semakin menjadi topik utama yang menarik perhatian masyarakat. Seminar ini bertujuan untuk mengukuhkan Bengkulu sebagai simbol sejarah nasional yang memiliki nilai akademis dan historis tinggi.
Sebagai salah satu wilayah yang memiliki peran besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, Bengkulu memiliki alasan kuat untuk menyandang predikat Bumi Merah Putih. Fakta historis menunjukkan bahwa Bengkulu merupakan tempat asal Fatmawati, sang penjahit bendera Merah Putih pertama. Fatmawati yang juga istri Presiden pertama Indonesia, Soekarno, menjadi sosok sentral dalam perjalanan sejarah nasional. Kontribusinya menginspirasi perjuangan kemerdekaan yang melibatkan keberanian dan pengorbanan besar.
BACA JUGA: Terpilih Sebagai Kota Percontohan Proyek Pembangunan Nasional dari NUDP, PJ walikota Merasa Senang
Dari sisi akademis, konsep Bengkulu sebagai Bumi Merah Putih dapat diwujudkan dengan pendekatan hermeneutik-semiotika sosial-historis serta kajian legal formal. Para pemangku kepentingan dapat menggunakan berbagai instrumen untuk menyusun panduan implementasi yang menguatkan identitas ini. Dengan demikian, pembangunan Bengkulu tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai budaya dan sejarah.
Warna Merah dan Putih yang menjadi simbol bendera Indonesia memiliki makna filosofis mendalam yang relevan dengan pembangunan Bengkulu. Warna merah melambangkan keberanian, yang dapat diartikan sebagai dorongan untuk menerapkan kebijakan progresif di berbagai sektor seperti pendidikan, infrastruktur, dan ekonomi. Sementara itu, warna putih melambangkan kesucian, yang menjadi pedoman dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan jujur.
BACA JUGA: Pemerintah Pacu Infrastruktur Digital dan Talenta AI Menuju Indonesia Emas 2045
Penguatan identitas ini diharapkan mampu mendorong masyarakat Bengkulu untuk bangkit, bersatu, dan bekerja sama demi masa depan yang lebih baik. Nilai-nilai ini menjadi dasar bagi setiap langkah pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
Seminar nasional yang digelar di UIN FAS Bengkulu menjadi awal dari perjalanan besar ini. Melalui diskusi-diskusi akademis dan implementasi kebijakan yang tepat, Bengkulu berpotensi menjadi daerah yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kaya akan nilai budaya dan sejarah. (**)
Editor: (KB1) Share
Pewarta: QQ











