Harga Beras Naik Tajam di Sanggau, Warga Minta Pemerintah Segera Turun Tangan
Kantor-Berita.Com, Sanggau|| Kenaikan harga beras kembali menghantui masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu daerah yang mulai merasakan dampak serius dari lonjakan harga ini adalah Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Warga dari berbagai kalangan mulai mengeluh karena harga beras terus merangkak naik, bahkan di beberapa tempat jenis beras premium sulit ditemukan.
Salah satu warga Sanggau, Wahyu, secara terbuka menyampaikan keresahannya terhadap kondisi pasar saat ini. Menurutnya, meskipun harga beras terus mengalami kenaikan, ia tetap harus membeli karena kebutuhan pangan tidak bisa ditunda.
BACA JUGA: Pemkab Sanggau Perketat Pengawasan Dana Desa untuk Cegah Korupsi
“Selama beras masih tersedia, saya akan tetap beli. Masalahnya bukan cuma mahal, tapi kalau stoknya tidak ada, itu yang bikin panik. Kami butuh kepastian bahwa beras tetap ada di pasaran,” ungkap Wahyu saat diwawancarai di Pasar Sanggau, Sabtu (19/7/25).
Warga berharap pemerintah daerah segera berkoordinasi dengan Perum Bulog untuk menyalurkan beras cadangan pemerintah atau melaksanakan operasi pasar murah di titik-titik strategis. Menurut mereka, solusi jangka pendek ini bisa menjadi penyelamat sementara bagi masyarakat bawah yang saat ini kesulitan membeli beras dengan harga tinggi.
BACA JUGA: Disperindagkop Sanggau Tegaskan Pangkalan LPG Jual Sesuai HET untuk Stabilkan Pasokan
“Kalau bisa Bulog langsung intervensi. Kirim beras murah ke pasar tradisional atau adakan bazar sembako. Kami sangat butuh bantuan,” ujar Wahyu lagi.
Lonjakan harga ini diperparah dengan menurunnya pasokan beras, terutama untuk jenis premium. Di sejumlah pasar tradisional, pedagang mulai kesulitan memenuhi permintaan konsumen. Hal ini menciptakan situasi yang tidak stabil, di mana masyarakat menghadapi ketidakpastian baik dari sisi harga maupun ketersediaan barang.
“Sekarang beras premium susah dicari. Kalau pun ada, harganya sudah naik lebih dari 20% dibanding bulan lalu,” kata Rina, seorang pedagang di Pasar Sanggau. “Pembeli banyak yang ngeluh, tapi saya juga nggak bisa berbuat apa-apa karena dari distributor harganya juga sudah tinggi.”
BACA JUGA: DPRD Sanggau Perjuangkan Listrik dan Investasi di Komisi XII DPR RI
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah. Mereka merasa tertekan karena harus mengalokasikan anggaran lebih besar hanya untuk kebutuhan pokok seperti beras.
Wahyu dan sejumlah warga lainnya berharap agar pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, segera turun tangan untuk mengatasi ketimpangan distribusi beras. Menurutnya, ketersediaan beras di pasar tradisional harus menjadi prioritas utama karena mayoritas masyarakat menggantungkan kebutuhan pangannya dari tempat-tempat tersebut.
“Pemerintah harus pastikan beras tersedia di semua pasar, jangan hanya di supermarket besar atau daerah kota saja. Kami yang tinggal di daerah pinggiran juga butuh akses terhadap beras dengan harga terjangkau,” tegas Wahyu.
BACA JUGA: BKPSDM Sanggau Gelar Bimtek Manajemen Bencana untuk Tingkatkan Kompetensi Aparatur
Ia menilai bahwa peran pemerintah sangat penting dalam menjamin distribusi yang adil dan merata ke seluruh pelosok, terutama menjelang momen-momen penting seperti tahun ajaran baru, hari besar keagamaan, atau kondisi cuaca yang memengaruhi produksi pertanian.
Lonjakan harga beras ini juga berpotensi memicu kenaikan harga bahan pokok lainnya. Di pasar tradisional, sejumlah pedagang mengaku bahwa efek domino mulai terasa, terutama pada komoditas seperti telur, minyak goreng, dan gula pasir.
“Kalau beras naik, biasanya bahan pokok lain ikut naik. Daya beli masyarakat makin lemah, penjualan saya juga menurun,” ujar Darto, pedagang sembako di Pasar Bodok.
Situasi ini dapat berdampak pada inflasi daerah, yang kemudian berpengaruh terhadap kondisi ekonomi secara menyeluruh, terutama di wilayah yang belum pulih sepenuhnya pasca pandemi dan krisis pangan global. (Yan’S).











