Geger!!! Keracunan Massal di Lebong: Ratusan Siswa Dirawat Usai Konsumsi MBG
Kantor-Berita.Com, LEBONG|| Kasus dugaan keracunan massal yang mengguncang Kabupaten Lebong kini semakin meluas. Setelah ratusan siswa sekolah dasar (SD) sebelumnya dirawat di RSUD Lebong, kini beredar khabarnya sejumlah pelajar sekolah menengah pertama (SMP) yang mengalami gejala serupa usai mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG) yang dibagikan pihak sekolah, Rabu (27/8/2025).
Suasana panik, haru, sekaligus tegang mewarnai Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Lebong. Sejak siang, rumah sakit tersebut penuh sesak oleh anak-anak yang mengalami mual, muntah, pusing, hingga lemas. Para tenaga kesehatan bekerja ekstra memberikan pertolongan darurat, sementara orang tua siswa berdesakan di ruang tunggu menanti kabar kondisi anak-anak mereka.
BACA JUGA: Pemprov Bengkulu Sambut Ekspedisi Patriot untuk Pemetaan Potensi Transmigrasi
Berdasarkan pantauan di lapangan, ratusan siswa berdatangan secara bertahap. Mereka dibawa dengan mobil pribadi, ambulans, hingga kendaraan dinas sekolah. RSUD Lebong yang tidak siap menerima lonjakan pasien mendadak harus menambah tenaga medis dan ruang perawatan darurat.
“Sejak pukul 12.00 siang hingga sore hari, pasien anak terus berdatangan. Ruang IGD dan bangsal anak penuh, kami harus membuka ruangan tambahan untuk menampung mereka,” ujar salah seorang tenaga kesehatan RSUD Lebong.
BACA JUGA: Ini Keterangan BPKAD Pemprov Bengkulu Ajukan Pinjaman Daerah Rp2 Triliun ke Bank BJB
Orang tua siswa yang menunggu di luar ruangan tampak cemas. Beberapa terlihat menangis ketika mengetahui kondisi anaknya harus dirawat dengan infus. “Anak saya muntah-muntah terus, badannya lemas. Tadi habis makan makanan dari sekolah,” kata salah seorang ibu dengan suara terbata.
Hingga sore, data sementara mencatat siswa yang dirujuk ke RSUD Lebong berasal dari beberapa sekolah, di antaranya SD IT Al-Azhar Sukabumi, SD Muhammadiyah Ujung Tanjung II, SD Negeri 17 Ujung Tanjung I, SD Negeri 25 Desa Sukabumi.
Selain itu, laporan terbaru menyebutkan beberapa siswa SMP juga mengalami gejala serupa. Mereka sempat ditangani di puskesmas terdekat.
BACA JUGA: Pemkab Matangkan Pengelolaan Sampah untuk Raih Adipura di Seluma
Salah seorang guru yang mendampingi siswanya mengungkapkan, gejala mual dan muntah mulai muncul beberapa jam setelah mengkonsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah.
“Bisa jadi keracunan makanan. Untuk penyebab pastinya kami belum berani memastikan. Dugaan sementara dari menu yang disajikan, ada mi, bakso, dan sayuran,” jelas seorang guru di salah satu sekolah.
Seorang siswa SD yang masih terbaring lemah di ranjang perawatan juga mengaku mulai merasa mual setelah mengonsumsi menu MBG. “Saya habis makan terus muntah-muntah,” ucapnya dengan wajah pucat sambil memegang perut.
BACA JUGA: SMA Boarding Garuda Akan Dibangun di Bengkulu Mulai 2026
Menu MBG hari itu terdiri dari mi, bakso, sayuran, telur, dan susu. Beberapa siswa menyebut rasa makanan sempat aneh, namun tetap menghabiskan hidangan karena disajikan sebagai program resmi sekolah.
Hingga berita ini diturunkan, pihak penyedia dapur MBG yang menyalurkan makanan ke sejumlah sekolah belum dapat dikonfirmasi. Aparat kepolisian bersama Dinas Kesehatan Lebong sudah turun ke lapangan untuk mengambil sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan.
“Kami sudah mengamankan sisa makanan untuk diperiksa di laboratorium. Hasil resmi akan diumumkan setelah uji labor selesai,” ujar seorang pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten Lebong.
BACA JUGA: Bupati Bengkulu Tengah Hadiri launching Program MBG, Siapkan 16 Titik SPPG
Meski dugaan kuat mengarah pada makanan MBG, pihak rumah sakit maupun Dinas Kesehatan belum berani menyatakan penyebab pasti. Mereka masih menunggu hasil investigasi dan uji laboratorium.
“Kami tidak bisa menyimpulkan dulu. Bisa jadi keracunan makanan, bisa juga faktor lain. Tim masih bekerja,” kata Kepala RSUD Lebong.
Di luar RSUD, suasana penuh kepanikan terasa. Orang tua yang menunggu kabar anak-anak mereka terus berdatangan. Sebagian berdesak-desakan ingin masuk melihat kondisi anak, namun petugas keamanan harus berjaga ketat agar tidak terjadi kericuhan.
“Yang penting anak saya selamat dulu. Soal penyebab nanti biarlah diselidiki. Sekarang saya hanya ingin anak saya sehat kembali,” ucap seorang ayah sambil mengusap air mata. (**)
Editor: (KB1) Share
Pewarta: QQ











