Pendangkalan Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu: Ancaman Serius bagi Ekspor dan Logistik
KANTOR-BERITA.COM, BENGKULU|| Pelabuhan Pulau Baai, yang menjadi jalur utama distribusi dan ekspor di Provinsi Bengkulu, kini menghadapi masalah serius akibat pendangkalan yang semakin parah, Masalah ini telah terjadi sejak 2018 dan kini mencapai titik kritis, mengganggu distribusi kebutuhan pokok seperti bahan bakar minyak (BBM) dan beras, serta menurunkan kapasitas ekspor secara drastis.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bengkulu, Rosjonsyah, bersama sejumlah pihak terkait seperti General Manager Regional II PT Pelindo, Kapolda Bengkulu, Danlanal Bengkulu, serta perwakilan dari berbagai instansi lainnya, menggelar rapat koordinasi untuk mencari solusi atas permasalahan ini. Pertemuan tersebut berlangsung di kantor PT Pelindo Regional II dan diakhiri dengan tinjauan langsung ke lokasi pelabuhan guna melihat kondisi terkini.
BACA JUGA: PT Pelindo Solusi Logistik Gelar SPRINT 2024, Direktur SPSL Sebut: Pacu Inovasi Pekerja
Plt Gubernur Rosjonsyah mengungkapkan bahwa alur pelabuhan yang sebelumnya memiliki kedalaman antara 7 hingga 11,5 meter kini hanya tersisa 1,5 meter di beberapa titik, Bahkan, sebagian kolam breakwater yang dulunya digunakan untuk tambatan kapal telah berubah menjadi daratan pasir akibat sedimentasi yang tinggi.
“Kondisi ini sangat memprihatinkan, Dampaknya bukan hanya menghambat operasional pelabuhan, tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi Provinsi Bengkulu, Kerugian ini diperkirakan mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah setiap tahunnya,” jelas Rosjonsyah.
BACA JUGA: Investor Korea Selatan Lirik Potensi Kelautan Pulau Baai Bengkulu
Masalah ini telah membuat Pelabuhan Pulau Baai kehilangan fungsinya sebagai pusat logistik dan ekspor, yang berdampak besar pada berbagai sektor ekonomi, Rosjonsyah menekankan pentingnya langkah cepat dan konkret dari semua pihak terkait agar permasalahan ini tidak terus berulang.
Usai rapat koordinasi, Plt Gubernur Rosjonsyah bersama rombongan langsung meninjau kondisi kolam dan alur pelabuhan untuk melihat situasi yang sebenarnya, Ia menyampaikan bahwa langkah penanganan mendesak harus segera diambil agar fungsi strategis Pelabuhan Pulau Baai dapat kembali optimal.
BACA JUGA: Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu: Katalisator Baru Potensi Ekspor Regional
“Saya minta seluruh instansi terkait, baik dari pemerintah pusat maupun daerah, segera mencari solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini, Pendangkalan seperti ini tidak boleh terus berulang setiap tahun karena dampaknya sangat besar terhadap perekonomian Bengkulu,” tegas Rosjonsyah.
General Manager PT Pelindo Regional II, S. Joko, menjelaskan bahwa sedimentasi tinggi akibat cuaca buruk menjadi penyebab utama pendangkalan, Akibatnya, kapal-kapal besar kesulitan beroperasi, baik untuk masuk maupun keluar pelabuhan. Hal ini secara langsung menurunkan kapasitas angkut barang dan menghambat kegiatan ekspor.
BACA JUGA: Dishub Provinsi Bengkulu Minta Kemenhub Segera Perbaikan Pelabuhan Linau
Sebagai contoh, ekspor batu bara yang sebelumnya mencapai 10 juta ton per tahun kini hanya mampu mengirimkan sekitar 3 juta ton, Proses pengangkutan pun menjadi lebih rumit karena barang harus dipindahkan terlebih dahulu menggunakan tongkang ke kapal besar di tengah laut.
Tak hanya batu bara, komoditas ekspor lainnya seperti cangkang sawit, hasil laut, dan rumput laut juga turut terdampak, Distribusi bahan pokok seperti BBM dan beras mengalami keterlambatan, yang dapat memicu inflasi dan masalah ketahanan pangan di wilayah Bengkulu. (**)
Editor: (KB1) Share
Pewarta: QQ











