Foto: PLH Kepala Balai, Delfi Andra SP, M.Si. pada saat membuka acara kegiatan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi dengan Metode METT (Management Effectiveness Tracking Tools), acara berlangsung di Hotel TWO K Azana, pada hari Rabu, (26/6/2024), (Ft/Ist).
BKSDA Bengkulu: Selenggarakan Kegiatan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi dengan Metode METT
KANTOR-BERITA.COM, BENGKULU|| Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu menyelenggarakan kegiatan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi dengan Metode METT (Management Effectiveness Tracking Tools), yang dikembangkan oleh WWF dan World Bank. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari di Hotel TWO K Azana Kota Bengkulu, dimulai pada hari Rabu, (26/6/2024).
Pembukaan acara dilakukan oleh PLH Kepala Balai, Delfi Andra, S.P, M.Si. Dalam sambutannya, Delfi menyampaikan bahwa program ini diinisiasi oleh BKSDA Bengkulu dengan dukungan dari Global Environment Facility (GEF) dan difasilitasi oleh United Nations Development Program (UNDP). Hibah GEF melalui Program CONSERVE merupakan salah satu kegiatan inovatif yang dikembangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Foto: Personil BKSDA Wilayah 1 dan Wilayah 2 Bengkulu pada saat melaksanakan Kegiatan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi dengan Metode METT, Acara Berlangsung di Hotel TWO K Azana, pada hari Rabu, (26/6/2024), (Ft/Ist/qq).
Acara ini diikuti oleh personil yang bertugas di Kantor Balai Besar Lingkup Wilayah 1 dan Wilayah 2 BKSDA Bengkulu. Penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi sangat penting untuk mengidentifikasi prioritas dan alokasi sumber daya dalam mencapai tujuan pengelolaan serta mendukung akuntabilitas dan transparansi pengelolaan kawasan konservasi kepada publik.
Dalam sambutannya, Delfi menekankan pentingnya penilaian ini dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. “Penilaian ini wajib dilaksanakan dan melibatkan seluruh stakeholder yang ada,” terangnya.
Delfi Andra, dalam sambutannya, menekankan bahwa penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi bukan hanya tentang mengukur kinerja tetapi juga tentang memastikan bahwa upaya konservasi memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.
“Penilaian ini akan menjadi panduan bagi kita untuk melakukan perbaikan yang konkret dan positif di masa depan,” tambahnya.
Keterlibatan berbagai pihak, termasuk akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat, sangat penting dalam proses ini. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas teknis tetapi juga membangun kemitraan yang kuat antara berbagai stakeholder.
Metode METT membantu dalam melihat berbagai ancaman terhadap kawasan konservasi dan sangat penting untuk pengelolaan yang efektif. Hasil penilaian ini akan menjadi kesepakatan bersama dan masukan bagi perbaikan ke depannya.
PLH Zainal Asikin dari Seksi Wilayah 2, PLH Wilayah 1 Davit Hutahayan, serta narasumber dari Universitas Bengkulu Fakultas Kehutanan, Siswahyono, turut hadir dalam kegiatan ini. Selain itu, hadir pula Lurah Dusun Kandang, Kades Banjar Sari Enggano, dan fasilitator dari BKSDA Lampung, Mariska Tarantona.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi dengan menggunakan METT sebagai alat ukur. METT dikembangkan untuk menilai sejauh mana manajemen kawasan konservasi telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konteks ini, METT memberikan kerangka kerja yang sistematis untuk mengevaluasi dan meningkatkan pengelolaan kawasan konservasi.
Dalam pelaksanaan kegiatan, peserta diajak untuk memahami dan menggunakan METT dalam berbagai aspek pengelolaan kawasan konservasi. Mereka dilatih untuk mengidentifikasi ancaman, mengevaluasi tindakan pengelolaan yang telah dilakukan, dan merumuskan strategi untuk mengatasi tantangan yang dihadapi.
Mariska Tarantona dari BKSDA Lampung yang bertindak sebagai fasilitator menjelaskan, bahwa METT menyediakan alat yang sangat berguna untuk mengevaluasi dan meningkatkan manajemen kawasan konservasi.
“Kita juga menekankan pentingnya integrasi data dan informasi dalam pengelolaan kawasan konservasi untuk mendukung pengambilan keputusan yang tepat, dan ada Penilaian-penilaian yang telah kita siapkan, untuk penghitungan Skor,” Terang Mariska.
Salah satu tujuan utamanya adalah untuk menciptakan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya pengelolaan kawasan konservasi yang efektif. Dengan menggunakan METT, pengelola kawasan konservasi dapat mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan dalam strategi mereka serta mengembangkan rencana aksi yang lebih efektif.
“Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat memberikan panduan yang jelas pengelolaan kawasan konservasi di Bengkulu dan sekitarnya, Selain itu penilaian ini akan membantu mengarahkan sumber daya dan upaya konservasi ke area yang paling membutuhkan perhatian,” Tutup Mariska. (**)
Pemdes Air Kemang Buka APBDes 2026, Warga Bisa Awasi Anggaran Desa Kantor-Berita.Com|| Pemerintah Desa (Pemdes) Air Kemang, Kecamatan Pino Raya, Kabupaten Bengkulu Selatan, terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan tata kelola…
Desa Kemang Manis Gelar Posyandu Rutin untuk Cegah Stunting Kantor-Berita.Com|| Pemerintah Desa Kemang Manis, Kecamatan Pino Raya, Kabupaten Bengkulu Selatan, terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat melalui kegiatan…
Cegah KDRT Sejak Dini, Pemdes Padang Beriang Gelar Penyuluhan Kantor-Berita.Com|| Pemerintah Desa Padang Beriang, Kecamatan Pino Raya, Kabupaten Bengkulu Selatan, menggelar kegiatan pelatihan dan penyuluhan tentang perlindungan anak serta pencegahan…
Pemdes Tanggo Raso Realisasikan Program Prioritas RKPDes Tahun 2026 Kantor-Berita.Com|| Pemerintah Desa Tanggo Raso, Kecamatan Pino Raya, Kabupaten Bengkulu Selatan, terus mempercepat pelaksanaan pembangunan desa pada tahun anggaran 2026. Sejumlah…