Harga TBS Sawit Bengkulu Turun Drastis, Wagub Mian Sidak Pabrik

Harga TBS sawit Bengkulu
Foto: Wakil Gubernur (Wagub) Bengkulu, Mian, Melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke salah satu pabrik kelapa sawit terbesar di wilayah Bengkulu Utara, yakni PT Alno Agro Utama Sumindo Oil Mill, pada Rabu, (09/4/25). (Ft/Ist).

Harga TBS Sawit Bengkulu Turun Drastis, Wagub Mian Sidak Pabrik

Kantor-Berita.Com, Bengkulu|| Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Bengkulu anjlok hanya dalam hitungan hari setelah perayaan Idulfitri 1446 H. Penurunan harga ini menjadi sorotan serius karena langsung mempengaruhi pendapatan ribuan petani sawit di wilayah tersebut. Dari semula berada di kisaran Rp3.000 per kilogram, harga TBS kini merosot sebesar Rp300, menyentuh angka Rp2.700 per kilogram.

Kondisi ini memicu keresahan di kalangan petani. Mereka mulai mempertanyakan alasan di balik turunnya harga yang terjadi tepat setelah momen besar keagamaan. Menyadari keresahan ini, Wakil Gubernur (Wagub) Bengkulu, Mian, langsung mengambil tindakan. Ia memimpin inspeksi mendadak (sidak) ke salah satu pabrik kelapa sawit terbesar di wilayah Bengkulu Utara, yakni PT Alno Agro Utama Sumindo Oil Mill, pada Rabu, (09/4/25).

BACA JUGA: FGD Pemprov Bengkulu Tegaskan Kehati-hatian Beri Izin Tambang Emas di Kawasan Hutan Seluma

Menanggapi gejolak yang terjadi di lapangan, Wakil Gubernur Mian tidak tinggal diam. Ia langsung terjun ke lokasi, memimpin sidak ke pabrik pengolahan sawit PT Alno Agro Utama di Kabupaten Bengkulu Utara. Dalam kunjungan tersebut, Mian berdialog langsung dengan manajemen pabrik dan meminta penjelasan atas fluktuasi harga TBS.

“Kami turun langsung untuk mendengar dan mencari tahu akar persoalan, Penurunan harga sawit ini bukan masalah kecil karena menyangkut hajat hidup para petani kita,” kata Mian kepada media.

BACA JUGA: Gubernur Helmi Desak Pelindo Segera Atasi Pendangkalan Alur Pelabuhan Pulau Baai

Ia menegaskan, pemerintah provinsi tidak akan membiarkan masalah ini berkembang tanpa solusi. Mian meminta pihak pabrik bertindak bijak dalam menentukan harga beli sawit dari petani, serta tetap mempertimbangkan stabilitas ekonomi petani lokal.

Dalam penjelasannya, Wagub Mian menyebutkan bahwa salah satu penyebab utama dari penurunan harga TBS sawit Bengkulu adalah dampak dari kebijakan internasional, khususnya dari Amerika Serikat. Ia mengungkapkan bahwa Presiden AS saat itu, Donald Trump, memberlakukan tarif impor sebesar 32 persen terhadap produk sawit dari Indonesia.

BACA JUGA: Walikota Dedy Wahyudi Tegaskan Kesiapan OPD Jelang Pemeriksaan BPK, Targetkan WTP Ketujuh

Kebijakan ini berdampak langsung pada permintaan global terhadap minyak sawit mentah (CPO), yang pada gilirannya memengaruhi harga TBS di tingkat lokal. Penurunan ekspor menyebabkan stok menumpuk, membuat pabrik enggan membeli sawit dalam jumlah besar dengan harga tinggi.

“Kita memang tidak bisa menolak dinamika global, Tapi bukan berarti kita pasrah, Pemerintah daerah akan terus mendorong agar stabilitas harga bisa dijaga, apapun tantangannya,” ujar Mian.

Wakil Gubernur Mian juga menyampaikan pesan tegas kepada manajemen PT Alno Agro Utama. Ia meminta agar perusahaan menjaga stabilitas harga sawit dan tidak seenaknya menurunkan harga tanpa mempertimbangkan nasib petani.

BACA JUGA: Wagub Bengkulu Mian Pantau Distribusi BBM Saat Lebaran, Larang Panic Buying di SPBU

Menurut Mian, peran perusahaan besar seperti PT Alno tidak hanya terbatas pada urusan bisnis dan keuntungan. Mereka juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat sekitar, terutama para petani yang menjadi tulang punggung industri sawit di Bengkulu.

“Kami minta agar manajemen pabrik lebih bijak, Jangan hanya berpikir soal laba rugi, Tolong pikirkan juga para petani yang menggantungkan hidup dari TBS,” tegas Mian.

Mian mengusulkan agar ada mekanisme harga yang adil dan transparan, serta melibatkan perwakilan petani dalam penentuan harga agar tidak terjadi kesenjangan atau manipulasi pasar.

BACA JUGA: Wagub Bengkulu Pimpin Forum Konsultasi RPJMD

Wagub Mian juga mengingatkan bahwa selama ini petani sawit berada di posisi paling lemah dalam rantai ekonomi komoditas ini, Mulai dari harga jual yang fluktuatif, akses terhadap informasi pasar yang terbatas, hingga minimnya pengaruh dalam negosiasi harga dengan pabrik.

Menurut Mian, inilah saatnya pemerintah memperkuat posisi petani, Salah satu caranya adalah dengan mendorong terbentuknya koperasi petani sawit yang kuat, yang bisa melakukan negosiasi harga secara kolektif dan menjamin kesejahteraan anggotanya.

“Kita harus ubah pola lama, Petani tidak boleh hanya jadi penonton, Mereka harus terlibat dalam pengambilan keputusan, apalagi yang menyangkut harga dan nasib mereka sendiri,” tandas Mian. (**)

Editor: (KB1) Share
Pewarta: QQ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *