Citra Kota Wisata Ramah Bengkulu Tercoreng Lagi, Hebohkan Tarif Pondok dan Parkir Tak Wajar

Pedagang Pantai Panjang
Foto: Wali Kota Bengkulu saat itu, Dedy Wahyudi, (Ft/Dok).

Citra Kota Wisata Ramah Bengkulu Tercoreng Lagi, Hebohkan Tarif Pondok dan Parkir Tak Wajar

Kantor-Berita.Com|| Upaya Pemerintah Kota Bengkulu dalam menata kawasan wisata dan membangun citra sebagai “Kota Wisata Ramah Pengunjung” kembali tercoreng. Belum lama ini, publik dihebohkan dengan beredarnya video viral yang memperlihatkan oknum pedagang di kawasan Pantai Panjang Bengkulu yang diduga memaksa pengunjung membayar sewa pondok dan parkir dengan tarif tidak wajar.

Dalam video tersebut, wisatawan mengeluhkan tarif sewa pondok mencapai Rp150.000 dan biaya parkir kendaraan yang dipungut lebih tinggi dari ketentuan resmi. Praktik seperti ini kembali memicu keresahan masyarakat, terutama di tengah upaya pemerintah menata kawasan Pantai Panjang sebagai ikon wisata andalan Provinsi Bengkulu.

||BACA JUGA: Walikota Dedy Wahyudi Buktikan Kepedulian Lewat Aksi Nyata

Kejadian ini bukan yang pertama. Sebelumnya, persoalan serupa sempat mencuat ke publik hingga membuat Wali Kota Bengkulu saat itu, Dedy Wahyudi, turun langsung ke lapangan. Dedy menemui sejumlah pedagang untuk memberikan teguran dan mengingatkan pentingnya menjaga nama baik kota yang dikenal dengan slogan Kota Merah Putih tersebut.

Wali Kota Dedy menegaskan bahwa tindakan oknum pedagang yang seenaknya menetapkan tarif sewa tanpa dasar aturan merupakan bentuk penyimpangan yang dapat merusak citra pariwisata Bengkulu di mata pengunjung. Menurutnya, wisata bukan hanya soal tempat indah, tetapi juga soal kenyamanan dan pelayanan.

||BACA JUGA: Dedy Wahyudi Masuk 25 Kepala Daerah Terpilih Ikuti KPPD Kemendagri–NUS

“Kita ingin wisatawan merasa nyaman, bukan sebaliknya. Kalau setiap datang ke Pantai Panjang malah disambut dengan tarif tak wajar dan sikap tidak ramah, bagaimana mereka mau kembali lagi?” tegas Dedy.

Ia menambahkan, Pemkot Bengkulu berkomitmen menjadikan Pantai Panjang sebagai destinasi wisata unggulan yang berkelas nasional. Karena itu, pedagang dan pelaku usaha di kawasan wisata memiliki peran penting dalam menciptakan kesan positif bagi para pengunjung.

“Pedagang adalah wajah depan pariwisata. Kalau wajahnya tidak ramah dan penuh pungutan liar, maka rusaklah citra kota. Saya minta semua pedagang lebih mengutamakan pelayanan yang baik, menjaga kebersihan, dan mematuhi aturan harga yang wajar,” ujar Dedy.

||BACA JUGA: Pemkot Bengkulu Siapkan Transformasi Besar Pantai Panjang Undang Para Investor, Targetkan Jadi Wisata Unggulan

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan segan mengambil langkah tegas terhadap praktik jual beli jasa atau pungutan yang merugikan wisatawan dan menodai semangat Kota Bengkulu sebagai kota ramah wisata.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Bengkulu, Nina Nurdin, mengakui pihaknya telah menerima laporan dan menindaklanjuti temuan tersebut. Menurutnya, pemerintah terus melakukan sosialisasi dan pembinaan kepada pedagang di kawasan Pantai Panjang, agar tidak ada lagi pemaksaan pembayaran dengan tarif sewa tidak wajar.

“Kami sudah berkali-kali mengimbau agar para pedagang tidak mematok harga di luar kesepakatan yang wajar. Apalagi sampai memaksa pengunjung. Itu bisa merusak kepercayaan masyarakat terhadap destinasi wisata kita,” tegas Nina.

||BACA JUGA: Dedy Wahyudi Tegaskan: Wisatawan Betah Kalau Pedagang Ramah dan Harga Wajar

Namun, Nina mengungkapkan bahwa sebagian pedagang berdalih bahwa tarif tersebut merupakan “kesepakatan bersama” antara pedagang dan pengunjung. Dalam praktiknya, banyak wisatawan yang terpaksa membayar karena merasa tidak enak atau sudah terlanjur menggunakan pondok.

“Dalih semacam itu tidak bisa dibenarkan. Kami akan bertindak lebih tegas agar kejadian seperti ini tidak terulang. Kami ingin wisata Bengkulu bersih dari praktik yang merugikan pengunjung,” ujarnya. (**)

Editor: (KB1) Share
Pewarta: QQ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *