Rakor Pemerintah Kota Bengkulu 2026: Dedy Wahyudi Instruksikan Kerja Cepat dan Terarah
Kantor-Berita.Com|| Memasuki tahun 2026, Pemerintah Kota Bengkulu menggelar Rakor langsung mengawali perjalanan baru dengan ritme kerja yang cepat dan terarah. Tidak ada waktu untuk bersantai. Sejak pekan pertama Januari, seluruh mesin birokrasi digerakkan untuk menyatukan langkah, memastikan target pemerintah daerah dapat tercapai dan pelayanan publik semakin optimal.
Langkah awal tahun tersebut ditandai dengan digelarnya Rapat Koordinasi (Rakor) Program dan Kegiatan Pemerintah Kota Bengkulu, yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, didampingi Wakil Wali Kota Ronny PL. Rapat ini menjadi forum penting untuk menyatukan visi dan mengevaluasi kesiapan jajaran pemerintahan di semua tingkatan, Rakor Berlangsung di Hotel Mercure pada hari Kamis, (15/1/26).
||BACA JUGA: Wali Kota Tegaskan Reformasi Pelayanan Publik: Kritik “Ilmu Cicak” dan Dorong ASN Lebih Responsif
Rakor yang berlangsung di aula Pemerintah Kota Bengkulu itu dihadiri oleh Pj Sekretaris Daerah Tony Elfian, para asisten, seluruh kepala organisasi perangkat daerah (OPD), camat, lurah, serta pimpinan unit layanan dasar seperti puskesmas dan kepala sekolah. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan komitmen pemerintah untuk memperkuat koordinasi lintas sektor sejak awal tahun.
Dalam arahannya, Wali Kota Dedy Wahyudi menegaskan bahwa mengurus Kota Bengkulu dengan jumlah penduduk 403.817 jiwa bukanlah tugas yang bisa dikerjakan oleh satu dua orang. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan pemerintahan bergantung pada kerja kolektif seluruh jajaran birokrasi.
||BACA JUGA: Dedy Wahyudi Dorong Mahasiswa KKN Tematik Unived Hadirkan Solusi Nyata
“Pemimpin yang dipilih rakyat hanya punya dua tangan. Tidak mungkin kami berdua bisa mengurus semua hal. Perlu campur tangan Bapak/Ibu semua: kepala OPD, kepala sekolah, camat, hingga puskesmas. Kita harus satu komando agar tidak ada lagi yang bingung harus berbuat apa,” ujar Dedy dengan nada tegas.
Ia menekankan bahwa koordinasi yang solid menjadi mesin utama dalam mendorong pembangunan daerah dan menjaga ritme kerja tetap konsisten sepanjang tahun anggaran berjalan.
Selain menyerukan persatuan gerak, Dedy juga menyampaikan evaluasi atas kinerja tahun sebelumnya. Ia meminta seluruh aparatur sipil negara (ASN) untuk meninggalkan kebiasaan lama yang tidak memberi kontribusi nyata bagi kemajuan kota. Menurutnya, tahun 2026 harus diisi dengan pendekatan kerja baru, yang lebih cepat, responsif, dan berorientasi pada pelayanan.
||BACA JUGA: Dedy: Pembangunan Kota Bengkulu Bersumber dari Pajak Warga
“Jangan ada lagi yang tidak paham tugasnya. Buka aturan, baca kembali ketentuan. Lurah itu bukan cuma urus SKTM atau administrasi saja. Lurah adalah Walikota di wilayahnya. Masalah sampah, warga berduka, sampai kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab anda,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan dalam Rakor karena menekankan pentingnya peran struktural setiap jenjang pemerintahan. Dedy ingin memastikan bahwa aparatur tidak hanya bekerja secara administratif, tetapi juga memegang tanggung jawab moral terhadap masyarakat.
Ada konsep menarik yang diperkenalkan dalam rakor ini. Untuk mempertegas pembagian tanggung jawab wilayah dan meningkatkan responsivitas pelayanan, Wali Kota Dedy menggunakan pendekatan penjenjangan kepemimpinan yang unik. Ia menggambarkan struktur pemerintah kota sebagai berikut:
- Wali Kota = pemimpin tingkat kota (Wali Kota tingkat 1)
- Camat = pemimpin tingkat kecamatan (Wali Kota tingkat 2)
- Lurah = pemimpin tingkat kelurahan (Wali Kota tingkat 3)
- Ketua RT = pemimpin tingkat lingkungan (Wali Kota tingkat RT)
Dengan filosofi ini, setiap pemimpin di tingkat terbawah diberi mandat untuk mengeksekusi solusi dengan cepat, tanpa harus menunggu instruksi dari tingkat atas. Dedy berpendapat bahwa banyak persoalan masyarakat sebenarnya bisa diselesaikan di tingkat RT atau kelurahan, asalkan pemimpinnya memahami peran mereka secara utuh.
||BACA JUGA: Wali Kota Dedy Tegaskan OPD Harus Jadi Teladan Kebersihan
“Jika semua sudah satu frekuensi dan merasa diri sebagai pemimpin di wilayahnya masing-masing, maka Kota Bengkulu akan jauh lebih maju di tahun 2026 ini. Tidak perlu lagi menunggu perintah untuk hal-hal yang bisa ditangani langsung di lapangan,” ucapnya.
Dalam pertemuan tersebut, Dedy juga memberi penekanan khusus kepada camat dan lurah sebagai pasukan terdepan yang bersentuhan langsung dengan warga. Camat dan lurah diminta untuk aktif memantau dinamika wilayah, tanggap terhadap keluhan warga, menjaga kebersihan lingkungan, meminimalisir konflik sosial, serta memperkuat komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
“Lurah jangan hanya menunggu laporan. Datangi warga. Lihat langsung masalahnya. Jangan tunggu viral dulu baru bergerak,” tegas Dedy. (**)
Editor: (KB1) Share
Pewarta: QQ











