PMI Kota Bengkulu Krisis Stok Darah, Dedy Wahyudi: Tunggakan Rumah Sakit Capai Ratusan Juta
KANTOR-BERITA.COM, KOTA BENGKULU|| Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bengkulu saat ini menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan darah setiap bulannya, serta masalah tunggakan pembayaran dari beberapa rumah sakit yang berhubungan dengan PMI. Isu ini diungkapkan oleh Ketua PMI Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, dalam acara Coffee Morning bersama awak media di hotel sinar Sport, pada Jumat, (16/8/24).
PMI Kota Bengkulu harus menyediakan sekitar 1.200 kantong, sedangkan PMI kota hanya mampu meyediakan 800-900 kantong, kekurangan setiap bulan mencapai 400 kantong untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan di Bengkulu. Kebutuhan darah yang terus meningkat menjadi beban berat bagi PMI, terutama dalam menjaga ketersediaan stok darah yang memadai dan memenuhi permintaan mendesak dari rumah sakit dan pasien.
BACA JUGA: PMI Kota Bengkulu Gelar Coffee Morning Bersama Media Perkuat Kerja Sama Misi Kemanusiaan
“Setiap bulan, PMI Kota Bengkulu harus menyiapkan sekitar 1,200 kantong darah, Kebutuhan ini sangat penting untuk menyelamatkan nyawa, namun sayangnya, kami menghadapi kendala dalam operasional,” ungkap Dedy Wahyudi, yang juga merupakan kandidat Wali Kota Bengkulu (2024-2029).
Salah satu masalah utama yang dihadapi PMI Kota Bengkulu adalah banyaknya rumah sakit yang menunggak pembayaran kepada PMI. Tunggakan ini bahkan telah mencapai ratusan juta rupiah, dan menjadi tantangan berat dalam memastikan operasional PMI berjalan lancar. Dana yang seharusnya digunakan untuk pengadaan dan pemeliharaan fasilitas pendukung, serta biaya operasional kantor, menjadi terganggu akibat tunggakan ini.
BACA JUGA: Dedi Wahyudi Nahkodai Dekopinda Kota Bengkulu Masa Bakti 2023 – 2028
“Tunggakan dari rumah sakit mencapai ratusan juta rupiah. Ini sangat mempengaruhi operasional PMI, termasuk kemampuan kami untuk menyediakan darah yang dibutuhkan oleh pasien di seluruh Bengkulu,” jelas Dedy Wahyudi.
Tunggakan pembayaran dari rumah sakit sangat berdampak pada kemampuan operasional PMI. PMI harus memastikan ketersediaan darah di setiap waktu, namun dengan dana yang terbatas, upaya tersebut menjadi semakin sulit. Biaya operasional, seperti pengadaan peralatan medis, pengelolaan stok darah, dan pemeliharaan fasilitas, semuanya tergantung pada pendapatan dari pembayaran rumah sakit.
“Kami berharap agar rumah sakit di Bengkulu dapat segera menyelesaikan tunggakan mereka kepada PMI. Ini sangat penting agar operasional kami bisa berjalan dengan efektif dan pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu,” tambah Dedy.
Dalam pertemuan tersebut, Dedy Wahyudi juga mengungkapkan harapannya agar pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait dapat memberikan dukungan kepada PMI Kota Bengkulu dalam menyelesaikan masalah ini. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab untuk menjaga ketersediaan darah dan memastikan operasional PMI tetap berjalan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya PMI saja.
BACA JUGA: Dirgahayu ke-10 RSHD Kota Bengkulu: Perayaan yang Meriah dan Bermakna
”Kami berharap dukungan dari pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan masalah tunggakan ini, Tanpa dukungan tersebut, kami akan kesulitan memenuhi kebutuhan darah yang sangat vital bagi masyarakat Bengkulu,” ujar Dedy, mantan Wakil Walikota bengkulu ini. (**)
Editor: (KB one) Share
Pewarta: Anton











