Gunung Merapi Kembali Keluarkan Awan Panas Guguran: Tanggap Darurat dan Koordinasi Antardaerah Diaktifkan
KANTOR-BERITA.COM, MAGELANG – Gunung Merapi kembali mengeluarkan Awan Panas Guguran (APG), memicu respons darurat dan koordinasi antardaerah. Pantauan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menunjukkan arah angin terdeteksi mengarah ke utara. Sebelumnya, laporan BPPTKG mencatat adanya hujan dengan intensitas tinggi di wilayah puncak Gunung Merapi dan sekitarnya.
Data seismogram BPPTKG merekam serangkaian luncuran APG dengan durasi dan amplitudo yang bervariasi. Kejadian dimulai pada pukul 14.49 dengan durasi 360 detik dan amplitudo maksimal (amak) sebesar 73 mm. Sementara pada pukul 15.48, luncuran terakhir tercatat dengan durasi 123 detik dan amak 72 mm. BPPTKG juga mengidentifikasi jarak luncur hingga 3.500 meter arah Barat Daya (Kali Krasak).
BACA JUGA: Gunung Marapi Meletus di Sumatera Barat Kolom Abu Vulkanik Hingga 3.000 Meter
Konfirmasi terkait kejadian ini datang dari dua pos pengamatan, yaitu Pos Jurangjero dan Pos Babadan. Meskipun visual sedikit terhalang oleh kabut tebal dan hujan, BPPTKG memastikan keberadaan APG pada dua pos tersebut.
Pos Babadan melaporkan bahwa APG terpantau secara visual dengan warna kelabu pekat, meskipun tertutup oleh kabut putih. Selain itu, kondisi cuaca saat ini menciptakan hujan abu campur air, mencapai Desa Krinjing, Desa Paten di Kabupaten Magelang, serta Desa Stabelan, Desa Klakah, dan Desa Tlogolele di Kecamatan Tlogolele, Kabupaten Boyolali.
“Hujan abu campur air terjadi di Desa Krinjing, Desa Paten, Desa Tlogolele, Desa Klakah, Pak,” ungkap petugas Pos Babadan, Yulianto.
Menanggapi kejadian ini, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali, Suratno, menyatakan bahwa timnya telah diterjunkan ke lokasi terdampak setelah menerima laporan dari Tim Siaga Desa (TSD) Tlogolele.
BACA JUGA: Kabupaten Toba DPSP: Magnet Investasi Pariwisata dengan Potensi Alam dan Budaya yang Luar Biasa
“Tim BPBD sudah menuju lokasi,” ujar Suratno.
Kendati demikian, Suratno memastikan bahwa keselamatan tim menjadi prioritas utama mengingat kondisi APG dan hujan secara bersamaan. Jika kondisi cuaca memburuk dan menyulitkan tim untuk mencapai lokasi, langkah penarikan mundur akan diambil dengan tetap berkoordinasi dengan tim TSD Tlogolele.
“Tim yang bergerak kami upayakan agar memperhatikan keselamatan, Kalau tidak memungkinkan ya sudah, mengingat saat ini sedang terjadi hujan dan APG masih berlangsung, Kita tunda namun tetap memonitor laporan dari tim TSD.” jelas Suratno.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Wasito, menyampaikan bahwa hujan air bercampur abu vulkanik dirasakan di lima desa di Kecamatan Dukun dan Kecamatan Tlogolele. Tim BPBD Kabupaten Magelang sudah bersiaga di sejumlah lokasi yang dianggap paling rawan dan berpotensi terdampak paling parah.
“Tim dari BPBD Magelang sudah standby disejumlah lokasi.” Jelas edi.
Edi juga mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di sepanjang sungai seperti Sungai Senowo, Sungai Bebeng, dan Sungai Lamat, mengingat terjadinya hujan di wilayah puncak Gunung Merapi yang berpotensi menimbulkan banjir lahar dingin.
“Karena bisa berpotensi terjadi banjir lahar dingin, Kami sudah mengimbau dan melarang segala aktivitas masyarakat khususnya di sepanjang aliran Sungai Senowo, Sungai Bebeng, dan Sungai Lamat.” kata Edi.
Perlu dicatat bahwa hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa, dan proses kaji cepat masih dilakukan oleh tim gabungan di lapangan. Situasi ini menuntut respons cepat, koordinasi yang baik antarinstansi, dan kewaspadaan tinggi dari masyarakat setempat. (**)
Editor: (KB1) Share
Mangcek
Sumber BPBD











