Bupati Seluma Teddy Rahman Hadiri Pawai Ogoh-Ogoh, Dukung Pelestarian Budaya dan Kerukunan

Pawai Ogoh-Ogoh Seluma 2025
Foto: Bupati Seluma, Teddy Rahman (Tengah) turut serta Menghadiri acara Pawai Ogoh-Ogoh di Desa Air Petai, Kecamatan Sukaraja, pada Jumat (27/3/25), (Ft/Ist)

Bupati Seluma Teddy Rahman Hadiri Pawai Ogoh-Ogoh, Dukung Pelestarian Budaya dan Kerukunan

Kantor-Berita.Com, Seluma|| Bupati Seluma, Teddy Rahman, SE, MM, turut serta dalam Pawai Ogoh-Ogoh di Desa Air Petai, Kecamatan Sukaraja, pada Jumat (27/3/25), Tradisi tahunan ini digelar untuk membersihkan alam semesta dari kejahatan dan kekacauan serta menyambut tahun baru dengan hati yang suci dan bersih.

Sebagai bagian dari budaya Hindu Bali, Pawai Ogoh-Ogoh telah menjadi tradisi yang dinantikan masyarakat setiap tahun. Selain sebagai persiapan menyambut Hari Raya Nyepi, pawai ini juga merupakan bentuk ekspresi seni, kreativitas, serta kebersamaan komunitas.

BACA JUGA: Pemkab Seluma Raih Penghargaan P2HAM, Bukti Komitmen Layanan Publik Berbasis HAM

Bupati Seluma mengapresiasi antusiasme masyarakat dalam menyelenggarakan acara ini. Ia menekankan bahwa Pawai Ogoh-Ogoh bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga simbol kekayaan budaya yang harus dijaga bersama.

“Ini adalah salah satu bukti bahwa keberagaman budaya di Seluma begitu kaya, Kita semua harus menjaga dan melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari identitas kita,” ujar Bupati Teddy Rahman.

BACA JUGA: Wabup Tinjau Pasar Murah & Pembagian Takjil di Lakukan Oleh IKJPP Seluma

Bupati Seluma Teddy Rahman pun mengapresiasi semangat warga yang tetap menjaga tradisi ini dengan penuh kegembiraan.

“Ini adalah contoh bagaimana budaya bisa menjadi pemersatu masyarakat, Saya berharap acara ini terus dilestarikan dan menjadi daya tarik wisata bagi Kabupaten Seluma,” kata Bupati Teddy Rahman.

Sebagai pemimpin daerah, Bupati Teddy Rahman menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kegiatan budaya di Seluma. Menurutnya, keberagaman budaya harus dijaga agar tetap menjadi kekayaan yang diwariskan kepada generasi mendatang.

BACA JUGA: Bupati Seluma Sampaikan LKPJ 2024, Komitmen Wujudkan Seluma EMAS

“Saya sebagai Bupati Seluma berkomitmen untuk mendukung semua bentuk pelestarian budaya, Budaya adalah identitas kita dan kita harus merawatnya bersama,” tegas Teddy Rahman.

Ia juga menekankan pentingnya kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Seluma. Dengan adanya berbagai tradisi yang berbeda, masyarakat harus saling menghormati dan menjaga kebersamaan.

“Kita hidup berdampingan dalam keberagaman, Saling menghargai adalah kunci dari persatuan dan kebersamaan, Kita ingin Seluma menjadi daerah yang damai dan harmonis bagi semua warganya,” tambahnya.

BACA JUGA: Pemkab Seluma dan Telkomsel Bengkulu Perluas Jaringan Telekomunikasi di Daerah Blankspot

Ogoh-Ogoh merupakan boneka raksasa yang dibuat dari bahan seperti bambu, kertas, dan kayu. Sosoknya sering kali digambarkan menyeramkan, melambangkan Bhuta Kala atau roh jahat yang membawa malapetaka bagi kehidupan manusia.

Dalam tradisi Hindu, Bhuta Kala harus dibersihkan agar manusia bisa memulai tahun baru dengan hati yang suci. Oleh karena itu, Pawai Ogoh-Ogoh menjadi simbol perlawanan terhadap kejahatan dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Setelah diarak keliling desa dengan penuh semangat, Ogoh-Ogoh kemudian dibakar sebagai simbol penghancuran sifat-sifat buruk dan energi negatif.

BACA JUGA: Bupati Seluma Resmikan “Electrifying Agriculture”, Listrik Masuk Sawah Tingkatkan Produktivitas Petani

“Ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga bagian dari kepercayaan masyarakat Hindu bahwa kita harus selalu membersihkan diri dari hal-hal negatif dan menyambut kehidupan yang lebih baik,” jelas salah satu pemuka agama Hindu di Sukaraja.

Selain memiliki nilai spiritual, Pawai Ogoh-Ogoh juga menjadi ajang kreativitas bagi masyarakat Seluma. Setiap tahun warga berlomba-lomba membuat Ogoh-Ogoh dengan desain unik dan penuh seni.

Pembuatan Ogoh-Ogoh membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Mulai dari membangun kerangka bambu, melapisi dengan kertas, hingga mengecat dan menghiasnya. Semua dikerjakan secara gotong royong, mempererat kebersamaan dalam komunitas.

“Kami senang bisa ikut serta dalam pawai ini, Selain sebagai ibadah, ini juga menjadi kesempatan bagi kami untuk menunjukkan kreativitas dan mempererat persaudaraan,” ujar seorang pemuda yang terlibat dalam pembuatan Ogoh-Ogoh. (**)

Editor: (KB1) Share
Pewarta: rego

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *