Jembatan Pulau Baai dan Lemau Rampung, Distribusi Logistik Bengkulu Kembali Normal

Jembatan Pulau Baai dan Lemau Rampung, Distribusi Logistik Bengkulu Kembali Normal
Foto: Jembatan Pulau Baai dan Lemau Rampung, Distribusi Logistik Bengkulu Kembali Normal, (Ft/Dok PT Pito Bersaudara Perkasa).

Jembatan Pulau Baai dan Lemau Rampung, Distribusi Logistik Bengkulu Kembali Normal

Kantor-Berita.Com|| Penantian panjang warga Pondok Kelapa di Kabupaten Bengkulu Utara dan kawasan Pelabuhan Pulau Baai di Kota Bengkulu akhirnya terjawab. Setelah bertahun-tahun mengandalkan jembatan darurat dan jalur pengalihan, akses transportasi di kawasan tersebut kini kembali normal seiring rampungnya pembangunan Jembatan Pulau Baai IB sepanjang 102 meter dan Jembatan Lemau A sepanjang 70 meter. Kedua infrastruktur strategis ini diselesaikan oleh PT Pito Bersaudara Perkasa dengan nilai kontrak sebesar Rp31 miliar melalui pembiayaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) tahun 2025.

Proyek tersebut berada di bawah Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Bengkulu. Pelaksanaan konstruksi berlangsung selama 240 hari kalender, dimulai sejak April hingga akhir Desember 2025. Keberhasilan penyelesaian proyek ini mengembalikan konektivitas penting di koridor logistik Bengkulu yang menghubungkan pelabuhan dengan kawasan permukiman serta sentra ekonomi.

||BACA JUGA: BPJN Bengkulu Siap Gandeng Kantor Bantuan Teknik, Pendampingan Pembangunan Infrastruktur Berkualitas

Direktur PT Pito Bersaudara Perkasa, Gilang Panji Kusuma, menyampaikan rasa syukur atas penyelesaian konstruksi yang mencapai progres 100 persen sesuai kontrak. Menurutnya, pekerjaan tersebut bukan tanpa tantangan, terlebih mengingat cuaca ekstrem serta kondisi tanah yang perlu penanganan teknis khusus.

“Alhamdulillah, setelah 240 hari kerja sejak April, penggantian Jembatan Pulau Baai IB akhirnya rampung tepat waktu meskipun menghadapi cuaca ekstrem. Terima kasih kepada seluruh tim yang bekerja dengan dedikasi tinggi dan profesional,” ujar Gilang kepada awak media pada Jumat (09/01/26).

||BACA JUGA: Apriansyah Serahkan Dokumen Freboard Hidrologi Ke BPJN Bengkulu untuk Pembangunan Jembatan Lubuk Silandak

Gilang menambahkan, mobilisasi material baja, beton pracetak, serta komponen girder sempat mengalami keterlambatan akibat gelombang tinggi yang menghambat transportasi laut menuju pelabuhan. Namun koordinasi intensif dengan pihak BPJN mampu memberikan solusi yang cepat sehingga tidak mempengaruhi target penyelesaian.

Kepala Satuan Kerja II BPJN Provinsi Bengkulu, Suwarno, ST, mengapresiasi profesionalisme kontraktor selama pengerjaan. Menurutnya, kemampuan mengelola tahapan krusial dalam penggantian konstruksi jembatan menjadi penentu keberhasilan proyek.

“PT Pito mampu menangani tahapan krusial proyek ini dengan baik, sehingga pekerjaan selesai tepat waktu dan sesuai spesifikasi,” ujarnya.

||BACA JUGA: Penanganan Ruas Jalan BPJN PUPR Bengkulu Manfaatkan Aspal Buton

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Miswan, ST menegaskan bahwa pengawasan terhadap mutu pekerjaan dilakukan secara ketat sejak awal hingga akhir. Selain kualitas struktural, penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) juga menjadi prioritas sepanjang masa konstruksi.

“Kami memastikan standar mutu dan penerapan K3 berlangsung sesuai ketentuan agar tidak menimbulkan risiko bagi pekerja maupun masyarakat di sekitar lokasi proyek,” katanya.

Rampungnya jembatan ini memiliki arti strategis bagi Bengkulu. Kepala BPJN Provinsi Bengkulu, Zepnat Kambu, ST, MT, menjelaskan bahwa kedua jembatan tersebut merupakan infrastruktur penghubung utama yang menopang distribusi logistik dari Pelabuhan Pulau Baai menuju kabupaten dan kota di sekitarnya.

||BACA JUGA: Jalan Urai–Ketahun Masih Non-Status, Pemprov-BPJN Bersinergi Upayakan Jadi Prioritas Nasional

“Arus logistik kini kembali lancar. Dampaknya langsung dirasakan pelaku usaha serta masyarakat karena waktu tempuh dan biaya distribusi kembali efisien,” tegasnya.

Selama proses pembangunan jembatan berlangsung, kendaraan berat terpaksa melakukan penberlakuan buka tutup rute. Kondisi itu membuat waktu tempuh lebih panjang serta biaya operasional meningkat, terutama bagi kendaraan angkutan barang. Kini dengan selesainya proyek, distribusi kembali normal dan beban logistik berkurang.

Dengan rampungnya Jembatan Pulau Baai IB dan Lemau A, pemerintah daerah berharap tidak ada lagi hambatan konektivitas di jalur distribusi primer Bengkulu. Proyek ini diharapkan menjadi contoh pelaksanaan pembangunan yang efisien, tepat waktu, dan berdampak langsung bagi masyarakat. (**)

Editor: (KB1) Share
Pewarta: QQ
ADV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *