Harga Kopi Bengkulu Stabil, Petani Nikmati Cuan Besar dalam 2 Tahun Ini
Kantor-Berita.Com, Curup|| Petani kopi di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, tengah menikmati salah satu momen terbaik dalam dua tahun terakhir, Pasalnya, harga jual biji kopi kering saat ini bertahan tinggi di angka Rp70.000 per kilogram, sebuah harga yang terbilang luar biasa bagi para petani lokal.
Stabilnya harga ini bukanlah fenomena sesaat, Berdasarkan pemantauan di lapangan, harga tersebut telah bertahan selama lebih dari enam bulan terakhir, menciptakan suasana optimis di kalangan petani yang sebentar lagi akan memasuki masa panen raya.
BACA JUGA: Gubernur Helmi Hasan Dorong Sertifikasi Kopi Bengkulu Go Internasional
Putra, salah seorang petani kopi asal Rejang Lebong, menyatakan bahwa tingginya harga saat ini merupakan pencapaian yang belum pernah ia alami selama 20 tahun menanam kopi, Sebagai petani yang sudah lama bergelut di sektor perkebunan kopi, Putra mengaku baru kali ini ia benar-benar merasa hasil kerjanya terbayar dengan layak.
“Sudah dua puluh tahun saya ngebun, baru kali ini nampak hasil kopi, Kalau dulu tembus Rp20.000 saja kami sudah senang,” ungkapnya saat diwawancara, Selasa (16/4/2025).
BACA JUGA: Bengkulu Coffee Festival 2025: Mengangkat Kopi Bengkulu ke Kancah Global
Ia menjelaskan bahwa harga Rp70.000 per kilogram berlaku untuk kopi jenis asalan atau kopi kualitas standar, Namun jika petani memanen dengan teknik lebih teliti, yakni hanya memetik biji kopi merah (matang sempurna), maka harga bisa melambung tinggi hingga Rp120.000 hingga Rp130.000 per kilogram.
Tingginya harga kopi tak lepas dari situasi pasar global dan lokal yang saat ini tengah mengalami lonjakan permintaan, Sementara itu, stok kopi, khususnya dari petani lokal, justru terbatas, Ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan inilah yang membuat harga tetap tinggi.
Kondisi cuaca yang tidak menentu dalam beberapa tahun terakhir juga membuat volume panen tidak sebesar biasanya, Namun menurut para petani, meski hasil panen turun, keuntungan justru naik karena harga jual kopi yang terus membaik.
BACA JUGA: Harga Kopi Robusta dan Arabika di Prediksi Tetap Tinggi Hingga Tahun 2025
“Kalau tahun lalu sempat turun Rp5.000 per kilo karena hujan terus, tapi sekarang permintaan naik dan stok tidak banyak, Jadi harga kembali bagus,” Kata Putra.
Dalam beberapa minggu ke depan, mayoritas petani di Rejang Lebong akan mulai memanen kopi, Antusiasme terlihat dari persiapan yang sudah dilakukan di banyak kebun, Para petani membersihkan lahan, mengecek kualitas pohon, dan memastikan biji kopi yang akan dipetik dalam kondisi matang sempurna.
Panen biji merah membutuhkan ketelatenan karena hanya buah kopi yang sudah matang yang dipetik, Proses ini lebih lama dan membutuhkan tenaga kerja lebih banyak, Namun hasilnya sebanding karena harga jualnya jauh lebih tinggi dibandingkan kopi asalan.
BACA JUGA: Tingginya Harga Kopi Bubuk, Owner “Bunda QQ”: Tetap Mempertahankan Kualitas Kopi
“Kalau kita sabar panen biji merah, bisa jual ke pengepul atau eksportir dengan harga dua kali lipat, Tapi ya, harus siap jemur juga dua minggu penuh kalau cuaca bagus,” Ujar Putra.
Kopi dari Rejang Lebong dikenal memiliki aroma dan rasa khas yang diminati pasar, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Daerah ini berada di kawasan dataran tinggi dengan kondisi tanah vulkanik yang sangat cocok untuk budidaya kopi robusta berkualitas tinggi.
Beberapa eksportir bahkan menyebut kopi dari Rejang Lebong sebagai komoditas unggulan yang layak bersaing di pasar global. Kualitas rasa yang kuat, aroma khas, dan konsistensi biji membuat kopi dari wilayah ini sering menjadi incaran eksportir dari Eropa dan Timur Tengah. (**)
Editor: (KB1) Share
Pewarta: Hendra Sari











