Bencana Besar di Aceh Tengah, BPBD: “Kondisi Sangat Kritis”

Bencana Aceh Tengah
Foto: Bencana Besar di Aceh Tengah, BPBD: “Kondisi Sangat Kritis”, (Ft/Dok).

Bencana Besar di Aceh Tengah, BPBD: “Kondisi Sangat Kritis”

Kantor-Berita.Com|| Bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor kembali menghantam wilayah Kabupaten Aceh Tengah dalam tiga hari terakhir, sejak 25 hingga 28 November 2025. Gelombang banjir membawa material lumpur, batu, dan kayu dari hulu pegunungan, sementara longsor besar menimbun pemukiman dan jalan utama. Dampak kerusakan yang ditimbulkan sangat luas, melumpuhkan sedikitnya 11 kecamatan dan menyebabkan kerusakan berat pada rumah warga, infrastruktur publik, fasilitas umum, hingga sektor pertanian.

Berdasarkan laporan sementara dari Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andalika, pada Jumat (28/11/2025) pukul 11.48 WIB, kondisi di sejumlah titik dinyatakan kritis. Jalur transportasi terputus total, jembatan penghubung antarwilayah hanyut, drainase jebol, dan sejumlah fasilitas pendidikan rusak parah.

||BACA JUGA: Banjir Rendam Kota Bengkulu, BPBD Tetapkan Status Siaga dan Imbau Warga Waspada

BPBD Aceh Tengah menegaskan bahwa laporan tersebut masih bersifat awal dan pendataan lanjutan terus dilakukan untuk memperkirakan total kerusakan secara menyeluruh.

Pemukiman warga menjadi sektor yang mengalami kerusakan paling parah. Longsoran tanah, lumpur pekat, hingga batu besar menimpa puluhan hingga ratusan unit rumah di berbagai kecamatan. Data sementara menunjukkan:

1. Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan

100 unit rumah rusak berat Seluruh bangunan tersebut tertimbun material longsor, menyisakan fondasi dan dinding yang roboh.

2. Kecamatan Bintang

Total 120 unit rumah tertimbun, terdiri atas:

  • 15 unit di Kampung Konyel
  • 20 unit di Kelitu
  • 15 unit di Sintep
  • 70 unit di Bale Kejurun Nosar

Mayoritas rumah tertutup lumpur setinggi lebih dari satu meter, membuat proses evakuasi terhambat.

3. Kecamatan Ketol

  • 37 unit rumah rusak parah, terdiri atas:
  • 20 unit rumah roboh di Mahabah
  • 15 unit rumah tertimbun tanah di Burlah

Sejumlah titik dinyatakan berpotensi longsor susulan karena kondisi tanah yang masih labil akibat curah hujan tinggi.

||BACA JUGA: BMKG Prediksi Hujan Bulan Agustus: BPBD Imbau Masyarakat Antisipasi Banjir dengan Bersihkan Saluran Air

Kerusakan jaringan infrastruktur menjadi tantangan utama dalam percepatan penanganan bencana. Berdasarkan laporan BPBD:

  • Kecamatan Silih Nara
  • Jembatan rangka baja 50 meter hanyut di Jerata
  • Satu jembatan baja 50 meter roboh di Kampung Segene Balik, Kute Panang
  • Jembatan tersebut merupakan jalur vital penghubung antar desa dan jalur distribusi logistik.

Kecamatan Ketol

Jembatan beton 35 meter di Kute Gelime putus total Kondisi ini membuat transportasi menuju desa sekitar terisolasi.

Selain jembatan, sejumlah titik jalan nasional tertutup material longsor dan banjir, sehingga kendaraan tidak dapat melintas selama lebih dari 48 jam.

Kerusakan infrastruktur publik turut menghambat aktivitas masyarakat:

  • Drainase Pedemun rusak sepanjang 80 meter
  • Drainase Mendale jebol sepanjang 200 meter
  • Drainase Kute Lot Non Prumnas runtuh sepanjang 500 meter

Selain itu, satu sekolah dasar di Kampung Tebuk, Kecamatan Pegasing, dilaporkan hancur total. Seluruh ruang kelas tidak dapat digunakan, peralatan belajar hanyut, dan struktur bangunan dinyatakan tidak layak pakai.

Objek wisata Natural Park Bukit Eweh juga mengalami kerusakan berat akibat terjangan air bercampur material kayu dan lumpur yang merusak jalur trekking dan fasilitas pengunjung.

||BACA JUGA: Pemkot Pontianak Peduli, Berikan Bantuan Kepada Masyarakat Terdampak Banjir di Mempawah

Selain sektor pemukiman dan transportasi, kerusakan terluas terjadi pada lahan pertanian. Ratusan hektare sawah dan kebun rusak akibat terendam banjir dan tertimbun lumpur.

Data sementara kerusakan lahan pertanian:

Kecamatan Celala:

  • 100 hektare sawah rusak di Kampung Celala
  • 20 hektare sawah rusak di Blang Kekumur

Kecamatan Silih Nara:

  • 40 hektare sawah dan kebun hancur total

Kecamatan Kebayakan (Mendale):

  • 20 hektare sawah tertimbun material longsor

Kecamatan Paya Beke:

  • 30 hektare sawah terendam banjir tanpa bisa dipanen

Kerusakan ini diperkirakan akan berdampak pada ketahanan pangan lokal, mengingat petani kehilangan akses ke irigasi dan lahan produktif.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andalika, menegaskan bahwa angka kerusakan masih dapat berubah seiring berlangsungnya proses verifikasi lapangan.

“Laporan ini bersifat sementara dan terus diperbarui untuk mempercepat langkah penanganan darurat, penyelamatan, dan pemulihan wilayah terdampak,” tegasnya.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama pada wilayah dengan kemiringan curam yang berpotensi longsor susulan akibat kondisi tanah yang jenuh air. (**)

Editor: (KB1) Share
Pewarta: QQ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *