Sampah Jadi Uang! Bank Sampah Bukti Nyata Sampah Jadi Berkah
Kantor-Berita.Com, Kota Bengkulu|| Di tengah persoalan klasik soal penanganan sampah, sebuah inisiatif luar biasa muncul dari warga Kelurahan Lempuing, Kota Bengkulu. Mereka berhasil membuktikan bahwa sampah tak selalu identik dengan limbah, tetapi bisa bernilai ekonomis tinggi melalui gerakan Bank Sampah Kreatif Berseri Lempuing. Lewat program ini, masyarakat tak hanya menciptakan lingkungan bersih, tetapi juga mendapatkan manfaat finansial nyata.
Bank sampah ini menjadi bukti bahwa kesadaran lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Tak heran, Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, memberikan apresiasi tinggi atas keberhasilan inisiatif ini saat meninjau langsung aktivitas pengelolaan bank sampah tersebut.
BACA JUGA: Bank Sampah: Solusi Lingkungan dan Ekonomi untuk Kota Bengkulu yang Lebih Bersih
Bank Sampah Kreatif Berseri Lempuing telah memiliki ratusan nasabah aktif yang dengan disiplin menyetor sampah anorganik seperti plastik, kardus, botol bekas, dan logam. Semua sampah yang terkumpul ditimbang dan dinilai berdasarkan jenis serta beratnya. Nilai tersebut kemudian dikonversi menjadi saldo tabungan yang tercatat atas nama masing-masing nasabah.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Kurnia Hayati, seorang ibu rumah tangga berusia 60 tahun. Ia sudah menjadi nasabah aktif sejak beberapa tahun lalu dan kini memiliki saldo tabungan mencapai Rp5 juta, hasil dari konsistensinya memilah dan menabung sampah rumah tangga.
BACA JUGA: Bank Sampah Kreatif Lempuing: Solusi Lingkungan Bersih dan Peningkatan Ekonomi di Bengkulu
“Kalau tidak ditarik, sebenarnya saldo saya sudah sampai Rp9 juta. Tapi sudah saya ambil sebagian. Sekarang saya ingin menabung terus, karena cita-cita saya, uang dari sampah ini akan saya gunakan untuk berangkat umrah,” ungkap Kurnia dengan wajah penuh harapan.
Mendengar hal tersebut, Wali Kota Dedy Wahyudi langsung memberikan dukungan moril, “Niat ibu ini kita doakan bersama, Kalau nanti kurang sedikit, insya Allah bisa kita bantu, Yang penting semangatnya luar biasa,” ujar Wali Kota sambil tersenyum.
Tak hanya Kurnia, kisah menginspirasi lainnya datang dari Sadah Hariyani, warga lain di Kelurahan Lempuing yang juga aktif menjadi nasabah bank sampah. Ia kini telah mengumpulkan saldo sekitar Rp1 juta, yang digunakannya untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebagai bentuk kepatuhan terhadap kewajiban sebagai warga negara.
BACA JUGA: Wali Kota Bengkulu Gencarkan Program 100 Hari: Fokus Penanganan Sampah dan Pendidikan Gratis
“Setiap tahun saya gunakan saldo ini untuk bayar PBB. Saya merasa bangga karena bisa menyumbang untuk negara hanya dari sampah,” kata Sadah.
Langkah Sadah ini mendapat sambutan hangat dari Wali Kota yang melihat langsung manfaat riil dari gerakan bank sampah bagi tatanan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Kalau semua masyarakat memiliki pola pikir seperti ini, TPA (Tempat Pembuangan Akhir) tidak akan overload, sampah bisa terkelola dengan baik, dan masyarakat pun mendapat keuntungan,” ujar Dedy.
BACA JUGA: DLH Kota Bengkulu Usulkan Bantuan Armada Sampah ke KLH, Targetkan Kota Bersih dan Ramah Lingkungan
Warga Bengkulu memiliki istilah unik dalam menggambarkan manfaat dari pengelolaan sampah ini, yakni “sarok jadi piti”, yang berarti sampah menjadi uang. Istilah ini tak hanya merepresentasikan nilai ekonomi dari limbah rumah tangga, tetapi juga menjadi simbol perubahan pola pikir masyarakat terhadap isu lingkungan.
Wali Kota Dedy Wahyudi menyatakan bahwa filosofi lokal ini bisa dijadikan kampanye masif untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat secara luas. “Kita harapkan gerakan ini bisa menjadi budaya baru yang berkelanjutan. Dari sarok jadi piti, dari sampah jadi berkah,” jelasnya.
Wali Kota menegaskan bahwa perubahan mindset adalah kunci utama dalam menyelesaikan persoalan sampah di kota-kota besar seperti Bengkulu. Jika seluruh rumah tangga menerapkan pemilahan sampah sejak dari sumber, maka beban TPA akan berkurang secara signifikan.
BACA JUGA: Antisipasi Overload: Pemkot Bengkulu Tingkatkan Pengelolaan Sampah
“Kita tidak bisa terus-menerus hanya menambah luas TPA. Solusi utamanya ada di hulu, yaitu pada rumah tangga. Maka bank sampah seperti ini menjadi instrumen efektif untuk mendorong perubahan itu,” ujarnya. (**)
Editor: (KB1) Share
Pewarta: QQ











