Tingkat Realisasi Anggaran Penanganan Stunting Rendah di Bengkulu
KANTOR-BERITA.COM, BENGKULU|| Bayu Andy Prasetya, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Bengkulu, telah menyoroti tingkat realisasi anggaran yang rendah untuk penanganan stunting hingga tanggal 31 Maret 2024. Dari total anggaran yang dialokasikan sebesar Rp20,47 miliar, hanya Rp2,8 miliar atau 13,68% yang telah terealisasi.
Lebih lanjut, Bayu menjelaskan bahwa realisasi anggaran terbesar tercatat pada Satuan Kerja (Satker) BKKBN dengan prosentase 25,35%, sedangkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hanya mencapai 7,98%. Sementara itu, sebagian besar Satker lainnya masih menunjukkan realisasi anggaran yang sangat rendah, di bawah 1% untuk penanganan stunting.
Menurut Bayu, mengatasi stunting adalah komponen kritis dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, yang bertujuan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul.
“Penanganan stunting sangat krusial dalam konteks pembangunan sumber daya manusia Indonesia menuju tahun 2045,” ungkap Bayu pada acara briefing pers, Rabu (1/5/24).
Ia juga menekankan urgensi bagi seluruh Satker untuk meningkatkan realisasi kegiatan mereka dalam penanganan stunting sesuai dengan rencana yang telah disusun. Bayu menegaskan bahwa realisasi yang cepat dan efektif sangat penting untuk memastikan bahwa program penanganan stunting dapat berjalan dengan sukses dan memberikan dampak yang signifikan dalam mengurangi prevalensi stunting di Indonesia.
“Kami membutuhkan kolaborasi yang kuat antarinstansi dan disiplin yang tinggi dalam pengelolaan anggaran, Ini vital untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan dalam penanganan stunting dapat memberikan hasil yang optimal,” kata Bayu.
Ia menambahkan bahwa efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran akan menjadi kunci dalam mencapai target-target nasional dalam memerangi stunting dan mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Dalam kesempatan tersebut, Bayu juga mengajak semua pihak terkait untuk meningkatkan koordinasi dan kolaborasi dalam mengimplementasikan program-program yang ditujukan untuk penanganan stunting. Hal ini diharapkan dapat mempercepat proses penurunan angka stunting yang masih menjadi salah satu masalah besar di bidang kesehatan dan pembangunan manusia di Indonesia.
“Kita perlu bergerak cepat dan secara strategis, memanfaatkan sumber daya yang ada dengan efisien, agar dapat segera memperbaiki kondisi nutrisi dan kesehatan anak-anak kita, Ini akan menjadi pondasi yang kuat untuk generasi mendatang,” tegas Bayu.
Langkah-langkah konkret dan komitmen dari semua Satker untuk mewujudkan tujuan tersebut sangat dibutuhkan. Ini tidak hanya tentang pencapaian angka, tetapi lebih kepada bagaimana setiap program dapat memberikan kontribusi nyata terhadap perbaikan kualitas hidup dan kesehatan anak Indonesia, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi sumber daya manusia yang mampu mendukung Indonesia menjadi negara yang maju dan emas di tahun 2045.
Bayu berharap bahwa dengan meningkatkan realisasi anggaran dan implementasi program yang efektif, Indonesia akan dapat memenuhi target pengurangan stunting sesuai dengan standar internasional dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, kerja keras ini akan berkontribusi signifikan dalam mewujudkan generasi yang lebih sehat dan lebih kompeten di masa depan. (**)
Editor: (KB1) Share
Pewarta: QQ











