Belungguk Point Jadi Ikon Ruang Publik Berbasis Kearifan Lokal

Belungguk Point Bengkulu
Foto: Belungguk Point Jadi Ikon Ruang Publik Berbasis Kearifan Lokal, (Ft/Ist).

Belungguk Point Jadi Ikon Ruang Publik Berbasis Kearifan Lokal

Kantor-Berita.Com|| Pemerintah Kota Bengkulu resmi memperkenalkan Belungguk Point, sebuah kawasan publik ikonik yang mengusung konsep kearifan lokal secara menyeluruh. Berlokasi di Jalan S. Parman, kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai jalur pedestrian, tetapi juga menjadi ruang ekspresi budaya yang merepresentasikan identitas Bengkulu di tengah dinamika pembangunan perkotaan.

Belungguk Point hadir sebagai terobosan kreatif Pemkot Bengkulu dalam menata ruang kota agar tidak sekadar fungsional, tetapi juga sarat makna budaya. Kawasan ini dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda bagi warga maupun wisatawan yang berkunjung ke Bengkulu.

||BACA JUGA: Progres Belungguk Point Masuki Tahap Akhir, Siap Menghiasi Wajah Baru Kota

Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, menegaskan bahwa Belungguk Point dibangun sebagai simbol keberanian kota dalam menampilkan jati diri budaya lokal ke ruang publik modern. Ia menyebut kawasan ini sebagai wujud komitmen pemerintah daerah dalam memastikan pembangunan infrastruktur tidak tercerabut dari akar budaya.

“Belungguk Point bukan sekadar trotoar. Ini adalah ruang publik yang berbicara tentang siapa kita sebagai orang Bengkulu,” ujar Dedy saat memperkenalkan kawasan tersebut, Senin (22/12/25).

||BACA JUGA: Jalan S. Parman Disulap Jadi Belungguk Point, Hadirkan Malioboro Versi Sendiri

Daya tarik utama Belungguk Point terletak pada lantai pedestrian yang dilukis dengan motif Batik Besurek, kain tradisional khas Bengkulu yang telah dikenal luas sebagai warisan budaya daerah. Berbeda dengan trotoar pada umumnya yang hanya berupa semen atau ubin polos, jalur pedestrian di kawasan ini tampil artistik dengan corak khas bernuansa aksara Arab Melayu yang menjadi ciri Besurek.

Menurut Dedy, pemilihan motif Besurek bukan tanpa alasan. Pemerintah Kota Bengkulu ingin menegaskan posisi Bengkulu sebagai pelopor dan pemilik asli motif tersebut.

“Ini satu-satunya di dunia. Kita ingin menunjukkan bahwa Bengkulu adalah rumah Besurek. Sekarang, warga dan wisatawan bisa berjalan di atas karya seni yang menjadi kebanggaan daerah,” kata Dedy.

||BACA JUGA: Dedy: Pembangunan Kota Bengkulu Bersumber dari Pajak Warga

Ia menambahkan, langkah ini sekaligus menjadi strategi kultural untuk memperkenalkan Besurek secara lebih luas kepada generasi muda dan pengunjung dari luar daerah. Dengan menjadikan motif tradisional sebagai bagian dari fasilitas publik, budaya tidak lagi hanya tersimpan di museum atau acara seremonial, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Keunikan Belungguk Point tidak berhenti pada lantai pedestrian. Pemerintah Kota Bengkulu juga mengganti pembatas trotoar konvensional yang biasanya berupa bollard semen dengan ornamen berbentuk alat musik tradisional Dhol.

Dhol merupakan alat musik perkusi khas Bengkulu yang kerap dimainkan dalam berbagai acara adat dan perayaan budaya. Ornamen ini dibuat dari bahan semen kokoh dan ditempatkan sepanjang jalur pedestrian.

||BACA JUGA: Wali Kota Dedy Wahyudi Instruksikan Lelang Dini Proyek 2026

“Di kota lain, pembatas trotoar biasanya kaku dan seragam. Kita ingin tampil berbeda. Ornamen Dhol ini bukan hanya mencegah kendaraan naik ke trotoar, tapi juga bisa digunakan sebagai tempat duduk santai,” jelas Dedy. (**)

Editor: (KB1) Share
Pewarta: QQ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *