BKSDA Bengkulu Pasang Tiga Perangkap untuk Tangkap Harimau Pemangsa di Mukomuko

Tangkap Harimau pemangsa warga Mukomuko
Foto: BKSDA Bengkulu Pasang Perangkap untuk Tangkap Harimau Pemangsa di Mukomuko, (Ft/Ist).

BKSDA Bengkulu Pasang Tiga Perangkap untuk Tangkap Harimau Pemangsa di Mukomuko

KANTOR-BERITA.COM, MUKOMUKO|| Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu mengambil tindakan cepat dengan memasang tiga perangkap untuk Tangkap seekor harimau yang telah memangsa seorang warga dan seekor sapi di Kecamatan Teras Terunjam Kabupaten Mukomuko, Langkah ini dilakukan untuk memastikan keselamatan warga dan meminimalkan konflik antara manusia dan satwa liar.

Kepala Resor BKSDA Mukomuko, Damin, menyatakan bahwa perangkap tersebut dipasang di tiga lokasi strategis di wilayah tersebut, yaitu Desa Setia Budi, Desa Tunggal Jaya dan Desa Mekar Jaya, Upaya ini dilakukan setelah ada laporan serangan harimau yang telah menewaskan Ibnu Oktavianto (22), warga Desa Tunggal Jaya dan seekor sapi milik warga Desa Mekar Jaya.

BACA JUGA: BKSDA Bengkulu: Selenggarakan Kegiatan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi dengan Metode METT

“Ya, ada tiga perangkap yang dipasang di beberapa lokasi,. Kami terus memantau pergerakan harimau untuk memastikan evakuasi berjalan dengan aman,” ujar Damin pada Minggu (12/01/25).

Peristiwa tragis ini bermula ketika Ibnu Oktavianto ditemukan tewas di kebun kelapa sawit milik Ari Cahyono pada Selasa (7/1) malam sekitar pukul 23.30 WIB, Tidak lama setelahnya, seekor sapi milik Deden Nurjamil di Desa Mekar Jaya Kecamatan Teras Terunjam ditemukan mati akibat serangan harimau.

BACA JUGA: BKSDA Bengkulu Gelar Acara Peningkatkan Kapasitas SDM dan Polhut

Harimau tersebut diduga berpindah lokasi setelah memangsa korban manusia dan sapi, bergerak ke Desa Setia Budi yang berdekatan dengan Desa Mekar Jaya, Pergerakan harimau liar ini menciptakan kekhawatiran di kalangan masyarakat setempat.

Damin menjelaskan bahwa pihaknya terus memantau pergerakan harimau yang radius pergerakannya dapat mencapai 50 kilometer, Berdasarkan analisis harimau yang terlibat dalam insiden ini adalah individu jantan yang juga pernah terlihat di Desa Pondok Kopi.

BACA JUGA: Inovasi Smart Hidroponik dan Energi Terbarukan: Pengabdian UNIB di Desa Malakoni Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Pemasangan perangkap direncanakan berlangsung selama 21 hari, Jika harimau tidak masuk perangkap dalam waktu tersebut, maka masa pemasangan akan diperpanjang hingga harimau berhasil dievakuasi.

“Kami akan terus memantau selama perangkap dipasang, Jika dalam 21 hari harimau belum tertangkap, waktu pemasangan akan diperpanjang,” jelas Damin.

Menurut Damin, pergerakan harimau ini tergolong tidak terkendali karena terus berpindah-pindah tempat. Harimau liar biasanya bergerak mencari makanan atau mencari wilayah baru. Hal ini sering kali memicu konflik dengan manusia, terutama ketika habitat satwa liar tersebut terganggu atau menyusut.

BACA JUGA: Perhutanan sosial Lakukan Pemetaan CPCL oleh KPH Mukomuko

“Harimau itu berpindah-pindah tempat dalam radius 50 kilometer, Ini tantangan tersendiri bagi kami dalam memantau dan menangkapnya,” tambah Damin.

Pihak BKSDA berharap pemasangan perangkap ini dapat berjalan lancar sehingga harimau dapat segera ditangkap dan dievakuasi ke tempat yang lebih aman, Evakuasi harimau tidak hanya penting untuk keselamatan warga, tetapi juga untuk melindungi populasi harimau sebagai satwa yang dilindungi.

“Semoga proses ini berjalan lancar dan harimau bisa dievakuasi ke habitat yang lebih aman, baik bagi manusia maupun satwa itu sendiri,” kata Damin. (**)

Editor: (KB1) Share
Pewarta: Budi Utoyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *